« October 2006 | Main | December 2006 »

November 29, 2006

Happy Day

Subhanallah Alhamdulillaah Laailahaillaahu Allahuakbar!!!

Such a happy day....

Besok mu liburan nih... berenang ke arcamanik sama Mbak Ervin n Little Aji

Senengnya udah terasa dari sekarang :p

Jadi semangat deh!!!

Trus ngerencanain lari pagi di sabuga tiap selasa. Bener lho mbak? jangan gak konkret ya? :P

Im ready for the next challenges!!!

November 26, 2006

Pake Celana Jeans

Sejak pake jilbab, celana jeans adalah salah satu barang yang paling aku hindari. Soalnya... celana menurutku celana jeans tuh kurang syr'iy gitu....
1. muslimah dilarang memakai pakaina yang menyerupai wanita kafir dan menyerupai laki2
celana jeans tuh sejarahnya adalah celana yang biasa dipake penggembala kambing di amerika,        yang biasa disenut cowboy.
cow= sapi
boy= laki-laki
nah... dari namanya aja udah ketauan betul bahwa celana jeans tuh pakaian yang biasa dipakai laki2.
kalo menyerupai wanita kafir? kayaknya gak usah dijelaskan lagi deh.banyak banget wanita kafir memakai celana jeans. dan merekalah yang mempopulerkan celana jeans ini kepada wanita muslimah.
2. kebanyakan celana jeans ini ukurannya ngepress badan
dialarang banget deh seorang muslimah pake baju yang ngepress badan. sama aja dengan gak pake baju. pakaian muslimah itu selayaknya longgar dan tidak membentuk tubuh.
3. gak enak kalo dipake sholat
dulu pas zaman jahiliyah, kemana2 pake tshirt dan clana jeans.anti banget deh pake rok,kecuali  rok sekolah. kerasa banget kalo sholat tuh gak enak, gara2 pake celana jeans. apalagai pas ruku dan sujud. aduuuuh... pengennya cepet2 selesai deh sholatnya.

Tapi hari ini aku pake clana jeans... nah lho?
eits jangan curiga dulu...
Karna hari ini ke warnet naek speda. Pengennya sih naek mobil... cuman gak ada izin dari ortu. Daripada terjadi hal2 yang tidak diinginkan... lebih baik naek speda aja. Karna hari ini pake gamis jeans biru dan celana katun birunya entah ada di mana :p jadi pake gamis plus celana jeans deh...
biar matching ceritanya

Dah lama gak naek speda... terakhir naek speda waktu bulan ramadhan. Dan bener2 menikmati naek sepeda tuh waktu zaman SD dulu. Tiap sore maennya sepeda2an sama temen2.

Seneng juga...
Dan merasa bahwa, benar yang diajarkan oleh islam bahwa kitaharus tawzun alias seimbang dalam kehidupan. Seimabang dalam aktivitas fisik, ruhiyah dan fikriyah.
Setelah berpusing2 ria dengan tugas2 kuliah, bersepeda sejenak (walalupun cuma keliling komplek aja) cukup menghibur :) subhanallaah

Makin merasa yakin bahwa islamlah jalanku...

November 24, 2006

Islam mengenal ‘pacaran’ ...

Dikalangan tertentu pacaran tidak dikenal, pun mereka tahu tetapi cenderung menghindari karena menganggap gaya itu tidak lagi mutlak dilakukan pada masa pranikah. Selain dinilai tidak sesuai dengan norma agama -ini terbukti dari pengalaman sepanjang sejarah keberadaan manusia bahwa pacaran cenderung kelewat batas bahkan tidak sedikit yang amoral- juga berkembangnya pemikiran bahwa satu kesia-siaan saja berjalan bersama orang yang belum tentu 100 % menjadi pasangannya. Ya, bagaimana mungkin bisa meyakinkan bahwa orang yang saat ini berjalan bersamanya memiliki komitmen untuk tetap ‘setia’ sampai ke jenjang pernikahan, la wong sudah sekian tahun berpacaran ternyata wacananya hanya sebatas curhat-curhatan dan take n give yang tak berdasar, tidak meningkat pada satu tindakan gentle, menikah! Atau setidaknya mengajukan surat lamaran ke orangtua si gadis. Berbagai dalih dan argumentasi pun meluncur untuk mengkamuflasekan ketidakgentle-annya itu, yang kemudian semua orang pun tahu itu cuma lips service dari orang yang tidak benar-benar dewasa alias childish.

Kedewasaan, ukurannya tidak terwakili hanya oleh umurnya yang diatas seperempat abad misalnya, tetapi juga pada sikap diri, attitude yang tertampilkan dalam kesehariannya. Dalam dunia pekerjaan, sikap dewasa dapat dilihat dari profesionalisme kerja, termasuk didalamnya kedisplinan. Dalam hubungan interelasi, bijaksana, proporsional dalam bersikap dan berbicara bisa jadi satu parameter kedewasaan. Nah yang menjadi masalahnya kemudian, tidak sedikit orang yang seharusnya bersikap dewasa justru memamerkan sifat kekanakkan saat berkesempatan bersama pasangannya, sikap yang dipraktekkan secara tidak proporsional dari ungkapan kasih sayang dan pengorbanan.

Orang terlihat dewasa mungkin hanya dari fisiknya saja, namun sisi lainnya seringkali luput dari perhatian. Padahal kedewasaan jelas meliputi beberapa aspek yang sekiranya patut diperhatikan dalam memilih pasangan yang kelak dinominasikan untuk menjadi pasangan hidup. Dewasa secara fisik, dimana organ-organ reproduksi telah berfungsi secara optimal yang ditandai dengan produksi sperma yang baik pada pria dan produksi sel telur yang memadai pada wanita. Selain perkembangan sel-sel otot tubuh menandakan –sekaligus membedakan- pria dan wanita. Dewasa secara psikologis, yang ditandai dengan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan, serta mampu menjalani hubungan interdependensi. Ini penting untuk diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan bersama dalam pernikahan. Dewasa secara sosial-ekonomi ditampakkan dalam kemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak sebagai suami-istri. Tentu hal ini terkait dengan adanya pekerjaan yang jelas serta penghasilan yang tetap, serta kesadaran akan meningkatnya biaya kehidupan dari waktu ke waktu seiring dengan bertambahnya anggota keluarga kelak.

Berdasarkan aspek kedewasaan diatas, maka wajarlah jika disatu sisi justru ada orang yang enggan berpacaran. Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa pacaran selain tidak diajarkan dalam agama Islam karena melanggar norma yang digariskan, juga dianggap ‘buang-buang waktu’, ‘wujud ketidakgentle-an’, ‘aktifitas sia-sia’ dan lain-lain. Namun sekedar diketahui, bahwa diluar itu ada sebagian yang memang benar-benar takut untuk mencintai, dicintai dan bahkan takut jatuh cinta. Dalam psikologi, orang-orang ini mungkin dianggap terkena sindrom fear of intimacy, satu kondisi yang disebabkan oleh ketakutan yang teramat sangat untuk menerima resiko kenyataan di kemudian hari. Seperti ditulis astaga.com, menurut psikolog Robert W Firestone dan Joyce Catlett, fear of intimacy ini adalah salah satu perwujudan dari pertahanan psikologis, yang lebih merupakan cermin dari pikiran dan sikap negatif atas hal-hal yang dilihat dan dipelajarinya waktu kecil.

Maka kemudian, Islam mengenal ‘pacaran’ dalam kemasan yang berbeda. Ustadz Ihsan Arlansyah Tanjung, konsultan keluarga sakinah di situs eramuslim sering mengatakan bahwa pacaran akronim dari ‘pakai cara nikah’. Ya, Islam hanya mengajarkan bentuk-bentuk curahan kasih sayang dan cinta itu setelah melalui satu proses sakral yakni pernikahan. Sementara proses pranikah yang dilakukan untuk saling mengenal antara calon pria dan wanita biasa disebut proses ta’aruf (perkenalan). Yang penting dari ta’aruf adalah saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai, dan seterusnya. Kaidah-kaidah yang perlu dijaga dalam proses ini antar lain nondefensif, tidak bereaksi berlebihan pada feedback negatif, serta terbuka untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru, Jujur, tidak curang, berbohong dan punya sense of integrity yang kuat, Menghormati batas-batas, prioritas dan tujuan calon pasangan yang menyangkut diri mereka maupun tidak, Pengertian, empati, dan tidak mengubah pasangannya sedemikian rupa serta tidak mengontrol, manipulatif, apalagi mengancam pasangan dalam bentuk apa pun.

Dalam tahap ini anda dan dia bisa saling mengukur diri apakah cocok satu sama lain atau tidak. Masing-masing pihak masih harus sama-sama membuka options/kemungkinan batal atau jadi. Maka umumnya dilakukan tanpa terlebih dahulu melibatkan orangtua agar tidak menimbulkan kesan ‘harga jadi’ dan tidak ada lagi proses tawar menawar, sehingga jika pun gagal/batal tidak ada konsekuensi apa-apa. Karena jika sudah sampai menemui orangtua berarti secara samar maupun terang-terangan seorang pria sudah menunjukkan niat untuk memperistri si wanita. Yang perlu jadi ingatan, seringkali pasangan-pasangan itu terjebak dalam aktifitas pacaran yang terbungkus sampul ta’aruf. Apa namanya bukan pacaran kalau ada rutinitas kunjungan yang melegitimasi silaturahmi dengan embel-embel ‘ingin lebih kenal’.

Jika sudah mantap atas pilihan masing-masing barulah kemudian melibatkan orang tua dalam proses selanjutnya, lamaran (khitbah). Untuk khitbah tak ada aturan yang kaku, yang penting dalam masa penjajagan keduanya berkenalan dan saling mengungkap apa yang disukai dan tidak disukai, saling mengungkap apa visi misi dalam pernikahan dan seterusnya. Tentunya khitbah harus tetap mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak mengumbar pandangan, tak menimbulkan zina mata, hati (apalagi badan), tak membicarakan hal-hal yang termasuk kejahatan dan sebagainya.

Yang perlu disadari, khitbah mirip jual beli, dalam masa tawar menawar bisa jadi, bisa juga batal. Pembatalannya harus tetap sopan menurut aturan Islami, tidak menyakiti hati dengan kata-kata yang kasar, tidak membicarakan aib yang sempat diketahui dalam khitbah kepada orang lain. Namun sebagaimana jual beli harus ada prinsip kedua belah pihak ridho. Khitbah baru bisa berlanjut ke pernikahan jika kedua pihak ridho, jika salah satu membatalkan proses tawar menawar maka pernikahan tak akan jadi. Kalaupun dibatalkan (meski mungkin menyakitkan), harus ada alasan yang kuat untuk salah satu pihak membatalkan rencana nikah yang sudah matang. Sebab Islam melarang ummatnya saling menyakiti tanpa alasan. Jadi jika ada yang ragu (dengan alasan yang benar) sebelum menikah, sebaiknya membatalkan sebelum terlanjur.

Adapun jarak antara khitbah dan akad nikah, tidak ada aturan yang menjelaskan harus berapa lama, tentu dalam hal ini masing-masing pihak bisa mengukurnya sendiri. Satu hari bisa jadi sudah deadline bagi pria-wanita yang sudah sedemikian menggebunya hingga khawatir terjerumus kepada dosa zina. Namun jika bisa merasa ‘aman’ dengan menunda beberapa waktu tidak masalah.

Jadi, jika segalanya sudah terencana dengan matang dan baik, seperti kata seorang bijak, jika berani menyelam ke dasar laut, mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan … Wallahu a’lam bishshowaab (Abinya Hufha)

Tulisan ini diambil dari www.prayoga.net, cuman sayang situs ini dah gak bisa dibuka lagi

November 23, 2006

Peran Berdasarkan Bakat Dominanku

1. Developing
Mengubah, atau menyebabkan perubahan sehingga menjadi lebih besar, lebih kuat, lebih menarik, sukses atau maju

2. Teaching
Menyampaikan materi pengajaran kepada peserta
--> Guru, Dosen, Instruktur

3. HRD
Salah satu bidang didalam bisnis yang perduli dengan masalah rekrutmen, pelatihan, motivasi, penggajian dan pengaturan karyawan.
--> Payroll ; Petugas Pelatihan, Petugas HRD

4. Leader

5. Testing
Melakukan uji coba proses atau peralatan untuk menguji bagaimana unjuk kerjanya
-->Penguji

6. Discovering
- Menemukan informasi yang belum diketahui sebelumnya .
- Menjadi orang pertama yang menemukan atau mempelajari sesuatu yang belum diketahui sebelumnya
- Menemukan sesuatu tanpa diduga sebelumnya atau setelah
mencarinya
-->Analis Riset, Periset Pemasaran,Periset


7 Bakat Dominanku

RELATING TALENTS (RT)
terdiri dari tema tema bakat yang umumnya secara efektif menciptakan,membangun dan mempertahankan hubungan. Tema tema ini
menggambarkan bagaimana seseorang mendekati orang lain dan bagaimana
seseorang menanggapi orang lain yang mendekatinya. Bakat ini memberi perbedaan bagaimana seseorang secara alami membentuk hubungan pribadi,atau
menunjukkan cara cara unik bagaimana dia menciptakan hubungan dan pola yang
dipilih untuk mempertahankan hubungan tersebut.

1. RT6.RELATOR, menikmati hubungan yang dekat dengan orang lain secara pribadi
o Relator menjelaskan sikap terhadap hubungannya.Dalam istilah sederhana,
tema Relator ini mendorongnya menuju orang yang sudah dikenalnya.
o Dia merasa nyaman dalam hubungan yang akrab. Sekali terjalin hubungan,
dia sengaja membina hubungan yang lebih mendalam lagi.
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: Account sales, Katalisator dalam hubungan kepercayaan , bisa menjadi
Model peran dalam hubungan kepercayaan.

IMPACTING TALENTS (IT)
terdiri dari tema tema bakat yang umumnya dapat memotivasi orang lain orang lain untuk beraksi, bakat bakat ini mendorong seseorang untuk menyiapkan jalan untuk diikuti oleh seseorang maupun kelompok kemudian membuatnya bergerak sepanjang jalan tersebut. Mereka yang memiliki bakat bakat ini akan merangsang orang lain untuk lebih produktif, untuk menggapai kesempurnaan dan untuk memaksimalkan potensi pribadi

2. IT3.DEVELOPER , mendapatkan kepuasan dari melihat setiap kemajuan masing
masing individu.
o Dia melihat kemampuan yang ada pada orang lain. Semua kemampuan
mereka itu dapat terlihat oleh nya.
o Ketika berinteraksi dengan orang, dia bersedia menolong mereka mencarikan
jalan untuk mencapai tujuan.
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: Manager, Guru, Pelatih , Pembimbing, Petugas sosial

3. IT4.MAXIMIZER , kecenderungan untuk mempelajari yang terbaik dan
membuatnya menjadi lebih baik lagi.
o Istimewa, bukan rata-rata, adalah standar ukurannya.
o Kekuatan-kekuatan, entah miliknya atau milik orang lain, sangat memikatnya.
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: peran dimana dia bertugas membantu orang hebat menjadi sukses. Seperti
Pelatih tim juara, Manager, Mentor, Guru, Transformational leader.



THINKING TALENTS (TT)
terdiri dari tema tema bakat yang umumnya melibatkan cara cara manusia mengumpulkan, memproses dan membuat keputusan berdasarkan informasi maupun gambaran mental. Survey menunjukkan bahwa manusia meluangkan sebagian besar waktunya untuk memikirkan baik hal hal yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Sebagai tambahan berpikir dalam kerangka waktu, ada juga bakat yang didasari atas bagaimana informasi diproses dengan cara yang berbeda.


4. TT3.CONNECTEDNESS
, memiliki keyakinan dalam menjelaskan gejala secara
“bathin”
o Penuh pertimbangan, penuh perhatian, mudah menerima : inilah kata kata
yang tepat baginya
o Segala sesuatu terjadi pasti ada sebabnya. Dia yakin akan hal itu, karena
dalam hatinya dia tahu bahwa kita semua ini saling berkaitan.
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut: Pendengar dan pemberi saran / Konselor, Leader didalam membangun
team yang berbeda kelompok atau Membantu orang merasa berguna.

5. TT7.FUTURISTIC , dapat memberikan inspirasi pada rekan lainnya dengan visinya mengenai masadepan
o Futuristic berarti tertarik kepada hal hal yang mungkin terjadi di bulan bulan,
tahun tahun dan dekade mendatang
o Dia memiliki banyak pilihan kemungkinan situasi mendatang dengan sumber
sumber manusia, waktu, uang , bahan dan memilihnya sesuai dengan pilihan
yang terbaik
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut:Entrepreuner ataupun pada situasi usaha awal , Perencana jangka panjang,
Visioner, peran didalam membuat visi organisasi atau Pengembangan produk
baru.

6. TT4.CONSISTENCY / FAIRNESS , memiliki bakat untuk melihat “kesamaan”
orang
o Dalam kehidupan yang penuh perubahan ini, mereka yang berbakat
Consistency selalu berusaha mencari kesetimbangan. Semua orang harus
diperlakukan dengan sama tidak perduli apa yang mereka lakukan atau siapa
mereka.
o Tidak berat sebelah itu penting baginya.Dia benar-benar sadar akan perlunya
memperlakukan orang secara adil, apapun jabatan mereka, sehingga dia tidak
ingin berpihak pada kepentingan satu orang tertentu saja.
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut:Hakim, Quantity Surveyor, Petugas Commisioning atau peran yang bisa
memiliki kekuatan untuk menyamakan aturan main, Petugas kontrol terhadap
kesesuaian atas standard seperti kepatuhan dlsb.



STRIVING TALENTS (ST)
terdiri dari tema tema bakat yang umumnya
digunakan untuk mendorong dirinya menuju hasil, bakat bakat ini memotivasi
dirinya merealisasikan sesuatu kemudian mencari hasil yang lebih baik lagi. Bakat
bakat ini juga merupakan motivasi yang nyata yang mempengaruhi seseorang
untuk melakukan tugas yang sama dengan cara yang ber beda beda, disebut juga
pemacu, yang mendorong seseorang untuk bangun pagi setiap harinya dan
melakukan sesuatu. Tema Striving ini merupakan bahan bakar yang mendorong
seseorang untuk melakukan yang terbaik, mengambil risiko dan menentukan
harapan yang tinggi

7. ST1.ACHIEVER , punya stamina yang tinggi dan selalu bekerja keras, kepuasan
hidupnya timbul dari kesibukan dan dari memberikan hasil
o Tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya sekarang. Targetnya
dipasang tinggi tinggi agar supaya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan
o memiliki api yang membara dalam dirinya yang mendorongnya untuk
berbuat lebih banyak, agar bisa menerima lebih banyak juga.
Tema Bakat ini merupakan salah satu bakat yang sering terdapat pada peran
berikut :Sales, Teknisi proyek, Teknisi lapangan, Pekerja lapangan, Relawan,
Petugas SAR .

November 22, 2006

Count Down

23 of november - 14 of december

14 of december - end of january

count down...

and find that every single pray is answered

amiin

November 20, 2006

Burung Unta

Burung unta tuh cerdik (baca: licik)

kalo disuruh  ngangkut barang... di mengaku sebagai burung

tapi kalo disuruh terbang dia mengaku sebagai unta

(Perumpamaan ini  disampaikan oleh kang Yedi, kakaknya Icha :D)

Dasar burung unta!!!! Semoga kita gak punya karaktek kayak burung unta ya...

Best Friend

Asw. ukhti kaifa imanuk? sudahkan semangat itu bersemi kembali?...

Sekarang lg sama adik2 mentor. doakan y. ujian dtg silih berganti. spt ombak yang berkejaran. Semoga diriku ttp istiqomah spt batu karang.

"Biar saja ku tak setegar batu karang, tapi selalu kucoba 'tuk melindungimu (baca:menyemangatiku)"- dr 'bendera'-Coklat.. dgn menyadari segenap kelemahan diri.. selama Allah masih mengizinkan diri ini untuk bernafas. aku mencoba skuat tenaga u/ saling mengingatkan dgn saudara2ku. ya Allah kuatkanlah diri ini u/ istiqomah.amin

3 penggal sms tadi pagi...

Betapa banyak orang yang menyayangiku... dialah salah satunya. Sodariku yang kutemui di kampus. Sejak awal aku merasa match dengannya. Walaupun belum berjibab. Aku merasa dialah orang yang menerimaku diantara teman2 seangkatan yang lainnya. Tingkat 2 ... tiba2 saja dia berjilbab. Ah... aku merasa tak punya investasi apa pun atas keberjilbababnya... tapi tak apa. Aku bahagia... aku merasa punya saudara seperjuangan. Dialah satu-satunya orang yang mengerti diriku. Banyak ceritaku kusimpan di dirinya. Hampir tak ada rahasia antara kita. Sering kali aku menginap di rumahnya dan bercerita sepanjang malam dengannya. Berbagi mimpi, cita-cita, menceritakan berbagai masalah dan mencari solusinya, menangis dan tertawa bersama. Dia tak pernah meminta apa-apa. Bahkan ketika aku lupa hari ulang tahunnya... dia tak murka. Bahkan aku malah merasa pernah meninggalkannya di saat-saat tersulit dalam hidupnya. Tapi dia tak pernah meninggalkanku hingga saat tersulit yang kuhadapi. Dia orang yang paling sering kulupakan... Tapi dialah yang kurasa sangat menyayangiku...

Dia lebih menyayangiku daripada orang yang pernah mengatakan padaku "aku sayang sama kamu..."

She is my best friend...

UKHUWAH

by Suara Persaudaraan

Tiada kata indah seindah kata ukhuwah
Dalam sebuah jalinan persaudaraan Islam
Jalinan yang abadi di sisi Tuhan
Berawal dari sebuah perkenalan

Semai tumbuh mekar berbatang serta berdahan
Berhiasakan ranting dan rerimbun dedaunan
berbuahkan cinta suci karena Tuhan
Damai kalbu sejuk terasa indah di pandang

Rasululloh mengajarkan tentang arti kata cinta
Yang harus diungkapkan pada sahabat atau saudara
Dengan kata - kata indah yang terungkap dari lisan
Seindah yang terpendam dalam kalbu

Di altar bandara Husain Sastra Negara  ---> [di labtek 8 Kampus ITB]
Kutemukan kurasakan sebuah fenomena cinta
Kusadari sepenuhnya cinta adalah rahmat-Nya
Yang harus di jaga dan dipelihara

Alloh kuatkanlah serta liatkanlah
agar cinta berbuahkan payung - payung perlindungan
dihari kiamat di hari tiada naungan kecuali dengan izin-Mu

Kunantikan janji-Mu
Kuberharap pada-Mu
Kuberada diantara tujuh golongan yang kau lindungi

Tempatkanlah diriku
Dudukkanlah diriku
Diatas mimbar yang terbuat dari cahaya-Mu

du.. du.. du..

back to "Tiada Kata indah......."
back to "Alloh kuatkanlah......."

November 18, 2006

Email yang menghebohkan

------------ --------- ------- Original Message ------------ --------- -------
Subject: [gamaisitb] sekedar cerita tentang cinta
From: "Aisar" <aisar@arc.itb. ac.id>
Date: Mon, November 13, 2006 8:49 am
To: kru@arc.itb. ac.id
fathifarhat@ yahoogroups. com
gamaisitb@yahoogrou ps.com
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

<dari milis Darut-Tauhid>

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua
mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan
Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah
Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang
tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan.
.."

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi
pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai
Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti
mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan
kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di
televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah
menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa.
Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan
berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang
tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung
shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang
kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du.
Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya
para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini
perkenankan saya bercerita...
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya,
yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya,
mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil
hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah
lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu ...
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke
atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat
di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga
aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan
Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit
politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam
suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau
kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan
keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih
merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah
yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini
ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan
tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang
yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap
memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu
mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan
selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri,
ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di
dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah
hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan
istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali
saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar
lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau
menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati,
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh
pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan
kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung
hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan
kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi,
sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah
menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta
ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.
Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka
datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami
ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada
keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan
kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian
serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya
beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas
yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak
boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya
nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak
terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan
bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati.
Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik
kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak
dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter,
seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak
mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil
seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak
direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke
berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat
keluarga besar Al Ganzouri."
Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah
saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat
sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang
jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan
bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini
kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan
penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan
beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata
illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan
putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih
keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah
dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan
ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak
karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya
kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor
ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku.
Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad
nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima
nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita
sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3
sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu
mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan
segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa
apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang
sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar
ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis
lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound,
tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di
jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada
puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara
campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca
bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa
berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini.
Maafkan Kanda!"
"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah
berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah.
Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.
Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda
tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada
mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu
ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita
berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita
saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa
optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi
teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan
sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan
dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa
uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50
pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang
murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali
bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya
berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan
perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil
menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi
kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah
untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan
mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan
uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk
3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah
kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan
satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu
saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan
cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan
gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika
percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari
semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling
nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat
Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak
menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan
Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak
memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus
mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada
putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah
yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah
dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang
berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa
bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai
mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah
membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun
mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita
hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang
bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua,
ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa
kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil
layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar
menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter
yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu
membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan
mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami
terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil
sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan
mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor
dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu
juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka
robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu
mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani
menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu
pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua
berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu
kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang
berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang
sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja
dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah
sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang
skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna
susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini.
Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak
kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan
niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil
memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar
menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan
saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun
marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan
segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun
penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak
ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan.
Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan
isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami.
Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah
SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada
kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam
itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia
tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang
penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &
lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku... besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa
dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia
ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program
Magister bersama!

"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat
paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai
dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak
berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar
Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran
dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan.
Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk
sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita
wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan
kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami
hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang
kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari
kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati
dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal
atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh,
menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis,
itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada
saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah,
tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan
yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar
biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa
sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah
wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam.
Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan
mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan
senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua.
Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil
tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar
Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami
belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih
hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak
dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk
pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal
hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali
tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah
memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui,
dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di
negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru
di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai
direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar
di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia
dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan
duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan
permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt
dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya
dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini,
di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk
di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda
Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan
bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

============ ========= ==
|| Men can talk ||
|| Aisar shows it up ||
============ ========= ==

Tafsir Surah Luqman Ayat 13-19

Hakikat siapakah Luqman yang dipilih oleh al-Qur’an sebagai jurucakap yang menerangkan persoalan-persoalan tauhid dan Akhirat telah diterangkan oleh berbagai-bagai riwayat-riwayat, ada riwayat yang mengatakan beliau itu seorang nabi dan ada riwayat yang mengatakan beliau hanya seorang hamba yang salih bukannya nabi. Kebanyakan Mufassirin berpegang dengan riwayat yang kedua ini. Kemudian dicerita pula bahawa beliau adalah seorang hamba bangsa Habsyah, dan ada pula cerita mengatakan beliau seorang yang berasal dari Nubah (di Timur LautAfrika). Begitu juga ada cerita yang mengatakan beliau hidup dalam kalangan Bani Israel sebagai salah seorang dari hakim-hakim mereka. Walau bagaimanapun hakikat beliau, namun al-Qur’an telah menjelaskan bahawa beliau telah dikurniakan Allah hikmat yang isi kandungan dan tujuannya ialah bersyukur kepada Allah, “dan sesungguhnya Kami telah mengurniakan hikmat kepada Luqman (dia berkata) Bersyukurlah kepada Allah”, ini adalah bimbingan al-Quran secara tidak langsung supaya bersyukur kepada Allah sebagai mencontohi Luqmanul-Hakim yang telah dipilih untuk mengemukakan kisahnya dan perkataannya. Di samping bimbingan secara tidak langsung ini terdapat pula satu bimbingan yang lain, iaitu kesyukuran kepada Allah merupakan satu bekalan yang berguna kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah terkaya darinya. Allah itu terpuji dengan zat- Nya walaupun tidak dipuji oleh sesiapa pun dan makhluk-Nya:

ٌدي ِمَح .يِن َغ َه.لل ا .نِإَف َرَفَك نَمَو ِهِسْفَن ِل ُرُكْشَي اَم.نِإَف ْرُكْشَي نَمَو

) 12 (

12. “Dan. barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya dan barang siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”

Oleh itu orang yang paling tolol ialah orang yang tidak mengikut hikmat ini dan tidak mengumpul modal bekalan yang seperti ini untuk faedah dirinya.

(Pentafsiran ayat 13)

Kemudian datang pula persoalan tauhid di dalam bentuk nasihat Luqmanul-Hakim kepada anaknya:

ٌمي ِظَع ٌمْل ُظَل َكْر.شل ا .نِإ ِه.لل اِب ْكِرْشُت اَل .يَن ُب اَي ُهُظِعَي َوُهَو ِهِن ْب اِل ُناَمْقُل َلاَق ْذِإ َو

) 13 (

13. “Dan (kenangilah) ketika Luqman berkata kepada anaknya semasa memberi nasihat kepadanya: Wahai anakku! Janganlah engkau sekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah satu kezaliman yang amat besar.”

Ini adalah satu nasihat yang jujur kerana tiada lain tujuan seorang bapa melainkan supaya anaknya mendapat kebaikan dan tiada sikap yang wajar bagi seorang bapa terhadap anaknya melainkan memberi nasihat. Di sini Luqmanul-Hakim melarang anaknya dan mempersekutukan Allah dengan alasan bahawa perbuatan syirik adalah suatu yang amat besar. Beliau menekankan hakikat ini dua kali. Sekali dengan mengemukakan larangan dan menjelaskan alasannya dan sekali lagi dengan menggunakan kata-kata penguat iaitu “inna” dan “lam” pada “lazulmun”. lnilah hakikat yang dikemukakan Nabi Muhammad s.a.w. kepada kaumnya lalu mereka mempertikaikannya dan mengatakan penceritaan ini sebagai ada udang disebalik hatu. Mereka takut penceritaan ini bertujuan untuk mencabut kekuasaan mereka dan menunjukkan kelebihan ke atas mereka. Apakah yang ada pada nasihat Luqmanul-Hakim yang dikemukakan kepada anaknya? Tidakkah nasihat seorang bapa kepada anaknya itu bersih dari segala keraguan dan jauh dari segala sangkaan yang buruk? Sebenarnya itulah hakikat yang amat tua yang disebut oleh setiap orang yang dikurniakan Allah pengetahuan hikmat yang bertujuan semata-mata untuk kebaikan bukannya tujuan yang lain darinya. lnilah penerangan psikologi yang dimaksudkan disini.

(Pentafsiran ayat-ayat 14 - 15)

Di bawah bayangan nasihat bapa kepada anak, al-Qur’an menjelaskan hubungan di antara dua ibu bapa dan anak-anak dengan uslub yang amat halus. Ia menggambarkan hubungan itu dengan satu gambaran yang menarik, penuh mesra dan lemah lembut, namun demikian hubungan ‘aqidah adalah tetap diutamakan dan hubungan darah yang erat itu:

ِنَأ ِنْي َماَع يِف ُهُل اَصِفَو ٍنْهَو ىَلَع اًنْهَو ُه.مُأ ُهْت َلَمَح ِهْي َدِل ا َوِب َناَسن ِإْل ا اَنْي.صَوَو ْرُكْشا ُ.ِصَمْل ا .يَل ِإ َكْي َدِل ا َوِل َو يِل

) 14 (

14. “Dan Kami telah menyuruh manusia supaya berbakti kepada dua orang tuanya. Dia telah dikandung ibunya yang mengalami kelemahan demi kelemahan dan masa lepas susunya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua ibu bapa engkau dan kepada-Ku tempat kembali.

” يِف اَمُهْب ِحاَصَو اَمُهْعِطُت اَلَف ٌمْل ِع ِهِب َكَل َسْي َل اَم يِب َكِرْشُت نَأ ىلَع َكاَدَهاَج نِإَو ُكُعِجْرَم .يَل ِإ .مُث .يَل ِإ َباَن َأ ْنَم َليِبَس ْعِب.تا َو اًفوُرْعَم اَيْن.دلا ْمُتنُك اَمِب مُكُئ.بَنُأَف ْم َنوُلَمْعَت

) 15 (

15. “Dan jika mereka berdua mendesak engkau supaya mempersekutukan- Ku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui, maka janganlah engkau ta’atkan kedua-duanya dan sahabatilah kedua mereka dengan baik di dunia ini, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Kulah tempat kembali kamu dan Aku akan memberitahu kepada kamu segala perbuatan yang telah dilakukan kamu.”

Perintah kepada anak-anak supaya berbuat baik kepada ibu bapa berulang-ulang kali disebut di dalam al-Qur’anul-Karim dan di dalam suruhan-suruhan Rasulullah s.a.w., tetapi perintah kepada ibu bapa supaya berbuat baik kepada anak-anak hanya disebut sedikit sahaja dan kebanyakannya mengenai peristiwa menanam anak hidup-hidup, iaitu satu peristiwa tertentu yang berlaku di dalam suasana-suasana tertentu. Ini disebabkan kerana fitrah semulajadi sahaja sudah cukup untuk mendorong ibu bapa mengambil berat terhadap keselamatan anak-anaknya. Fitrah semulajadi memang didorong ke arah melindungi generasi baru untuk menjamin kesinambungan hayat sebagaimana yang dikehendaki Allah. Ibu bapa akan mengorbankan tubuh badan mereka, saraf mereka, umur mereka dan segala sesuatu yang mahal yang dimiliki mereka demi kepentingan anakanak mereka. Mereka membuat pengorbanan-pengorbanan itu tanpa bersungut atau mengadu, malah tanpa kesedaran mereka, malah mereka berkorban dengan cergas dan senang hati seolah-olah merekalah yang menerima. Pendeknya fitrah semulajadi sudah cukup untuk mendorong ibu bapa menjaga anak-anaknya tanpa perintah, cetapi kepada si anak pula ia perlu diperintah berulang-ulang kali supaya memberi perhatian kepada generasi ibu bapa yang berkorban dan yang berundur ke belakang hayat setelah mencurahkan usia dan jiwa mereka kepada generasi baru yang menghadapi masa depan hayat. Si anak tidak dapat menggantikan separuh pengorbanan yang telah dilakukan orang tuanya walaupun dia memberi seluruh umurnya untuk mereka. Gambaran menarik di dalam ayat “dia telah dikandung ibunya yang mengalami kelemahan demi kelemahan dan masa lepas susunya dalam dua tahun” adalah menggambarkan bayangan dan pengorbanan mereka yang luhur itu. Si ibu sudah tentu menanggung habuan pengorbanan yang lebih besar dan dia melakukan pengorbanan itu dengan perasaan kasih mesra yang lebih hebat, lebih mendalam, lebih lembut dan halus. Al-Hafiz Abu Bakr al-Bazzar telah meriwayatkan dalam musnadnya dengan sanadnya dari Burayd dari bapanya bahawa seorang lelaki mengerjakan tawaf dengan mendukung ibunya lalu dia bertanya Nabi s.a.w.: “Adakah saya telah membayar haknya (ibunya) beliau: “Tidak, tidak, walau senafas pun”. Demikianlah dia tidak dapat membalas budi ibunya walau senafas pun dan masa ia mengandung atau masa dia bersalin. Dia mengandungnya dengan mengalami kelemahan demi kelemahan. Di bawah bayangan gambaran yang penuh mesra itu, al-Quran menyuruh manusia supaya bersyukur kepada Allah selaku Pengurnia ni’mat yang pertama dan berterima kasih kepada ibu bapa selaku pembuat budi atau pemberi ni’mat yang kedua. Al-Quran mengatur kewajipan, mula-mula bersyukur kepada Allah kemudian berterima kasih kepada dua ibu bapa:

َكْي َدِل ا َوِل َو يِل ْرُكْشا ِنَأ .

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua ibu bapa engkau”

kemudian ia kaitkan hakikat ini dengan hakikat hari Akhirat “dan kepada- Ku tempat kembali”, di mana bergunanya modal bekalan amalan bersyukur itu. Tetapi hubungan dua ibu bapa dengan anak itu walaupun begitu erat mesra dan mulia namun dalam susunan tertib ia hanya menduduki tempat yang kedua selepas hubungan ‘aqidah. Baki perintah kepada manusia dalam hubungan mereka dengan ibu bapa ialah:

نَأ ىلَع َكاَدَهاَج نِإَو اَمُهْعِطُت اَلَف ٌمْل ِع ِهِب َكَل َسْي َل اَم يِب َكِرْشُت

15. “Dan jika mereka berdua mendesak engkau supaya mempersekutukanKu dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui, maka janganlah engkau ta’atkan kedua-duanya.” Sampai di sini gugurlah kewajipan ta’at kepada dua ibu bapa, dan di sinilah meningkatnya hubungan ‘aqidah mengatasi segala hubungan yang lain. Walau bagaimana hebat usaha, perjuangan, desakan dan penerangan yang dikemukakan oleh ibu bapa dengan tujuan memujuk si anak supaya mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak diketahui ketuhanannya, maka dia diperintah supaya jangan ta’at kepada kehendak dua ibu bapa itu. Itulah perintah dan Allah selaku tuan punya hati yang pertama yang pasti ditaati Tetapi perbezaan ‘aqidah di antara anak dan ibu bapa, juga perintah supaya jangan menta’ati ibu bapa dalam perkara-perkara yang bertentangan dengan ‘aqidah, tidaklah menggugurkan hak ibu bapa dari mendapat layanan yang baik dan persahabatan yang mesra dari anak-anaknya:

ا يِف اَمُهْب ِحاَصَو اَمُهْعِطُت اًفوُرْعَم اَيْن.دل

15. “Dan sahabatilah kedua mereka dengan baik di dunia ini.” Hidup dunia ini hanya merupakan satu perjalanan yang pendek yang tidak menjejaskan hakikat yang pokok:

.يَل ِإ َباَن َأ ْنَم َليِبَس ْعِب.تا َو

15. “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” Itulah jalan orang-orang yang beriman.

ْمُكُعِجْرَم .يَل ِإ .مُث

15. “Kemudian kepada-Kulah tempat kembali kamu.” laitu selepas selesai perjalanan hidup dunia yang terbatas.

َ نوُلَمْعَت ْمُتنُك اَمِب مُكُئ.بَنُأَف

) 15 (

15. “Dan Aku akan memberitahu kepada kamu segala perbuatan yang telah dilakukan kamu.”

Setiap orang akan menerima balasan dan amalannya iaitu amalan kufur atau bersyukur, syirik atau tauhid. Menurut riwayat, ayat ini juga ayat Surah al-’Ankabut yang sama dan ayat al-Ahqaf adalah diturun kerana peristiwa Saad ibn Abu Waqqas dengan Ibunya (sebagaimana saya telah jelaskannya di dalam juzu’ yang kedua puluh dalam Sura al-’Ankabut). Menurut riwayat yang lain, ayat ini diturun kerana peristiwa Sa’d ibn Malik. Ini diriwayatkan oleh at-Tabrani dalam kitab al-’Isyrah dengan sanadnya dari Daud bin Abu Hind. Kisah yang disebut dalam Sahih Muslim adalah dari hadith Sa’d ibn Abu Waqqas dan inilah riwayat yang lebih rajih. Maksud ayat ini adalah umum mencakupi segala keadaan yang sama. Ia mengatur hubungan-hubungan di samping mengatur kewajipan-kewajipan, iaitu hubungan dengan Allah merupakan hubungan yang pertama dan menjunjung perintah Allah merupakan kewajipan yang pertama Al-Qur’an menjelaskan dasar ini dan menekankannya pada setiap kesempatan dengan menggunakan berbagai-bagai cara supaya dasar ini tertanam di dalam hati orang-orang yang beriman dengan jelas tanpa sebarang keraguan dan kekaburan. (Pentafsiran ayat 16) Setelah selesai penerangan selingan di dalam nasihat Luqman kepada anaknya itu, al Qur’an menyambung pula nasihat Luqman yang berikut untuk menjelaskan persoalan hari Akhirat dengan hisabnya yang amat halus dan balasannya yang amat adil. Tetapi hakikat hisab dan balasan ini tidak dijelaskan secara bersendirian sahaja, malah dikemukakan di dalam ruangan alam buana yang luas dan dengan gambaran yang berkesan, yang membuat hati menggigil apabila ia menyedari ilmu Allah yang meliputi segala-galanya, iaitu ilmu Allah yang amat halus dan seni:

ُكَت نِإ اَه.نِإ .يَن ُب اَي ْوَأ ِتا َواَم.سل ا يِف ْوَأ ٍةَرْخَص يِف نُكَتَف ٍلَدْرَخ ْن.م ٍة.ب َح َلاَقْث ِم ٌ.ِب َخ ٌفي ِطَل َه.لل ا .نِإ ُه.لل ا اَهِب ِتْأَي ِضْرَأْل ا يِف

) 16 (

16. “Wahai anakku! Sesungguhnya jika sesuatu amalan itu hanya seberat biji sawi dan sekalipun ia tersembunyi dalam batu atau berada di laut atau di bumi nescaya ia akan dibawakan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Halus dan Maha Pakar.”

Tiada satu pengungkapan mengenai kehalusan dan kesyumulan ilmu Allah dan qudrat-Nya, juga mengenai kehalusan hisab dan keadilan pertimbangan Allah yang dapat mendampingi pengungkapan al-Quran ini. ltulah kelebihan al-Quran yang penuh mukjizat, indah dan mendalam penerangannya1 . Sebiji sawi yang kecil, terbuang dan tiada nilai tersembunyi dalam sebiji batu yang pejal, ia tidak kelihaan dan tidak dapat dihubungi “atau berada di langit” iaitu di angkasa raya yang maha luas, di mana bintang yang besar kelihatan seperti sebiji noktah yang terapung-apung atau sebiji debu yang sesat “atau di bumi” Ia hilang tidak kelihatan di dalam debu-debu tanah dan batu-batunya “nescaya akan dibawakannya oleh Allah” yakni ilmu Allah tetap mengikutinya dan qudrat Allah tetap menangkapnya “sesungguhnya Allah Maha Halus dan Maha Pakar”. Ini adalah satu kesimpulan yang amat sesuai dengan pemandangan sesuatu yang tersembunyi dan seni. Daya khayal kita terus mengikuti biji sawi di tempat persembunyiannya yang amat dalam dan luas itu, dan menyedari bahawa ilmu Allah tetap mengikuti biji sawi itu hingga hati kita menjadi khusyu’ dan kembali kepada Allah Yang Maha halus dan mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dan di sebalik itu tertanamlah hakikat persoalan hari Akhirat yang mahu ditanamkan oleh al-Quranul-Karim ke dalam hati manusia dengan cara penerangan yang amat menarik ini.

(Pentafsiran ayat 17)

Kemudian aI-Qur’an terus menceritakan nasihat Luqman kepada anaknya. Beliau membawa anaknya mengikuti langkah-langkah ‘aqidah setelah ia tertanam di dalam hatinya, iaitu selepas beriman kepada Allah yang tanpa sebarang sekutu bagi-Nya dan selepas yakin kepada hari Akhirat yang tidak diraguinya sedikit pun itu dan selepas percaya kepada keadilan balasan Allah yang tidak terlepas dari-Nya walaupun sebesar sebiji sawi. Ia membawa anaknya kepada langkah yang kedua iaitu bertawajjuh kepada Allah dengan ibadat solat dan menghadapi manusia dengan berdawah kepada Allah dan sabar memikul tugas-tugas da’wah dan kesulitannya yang pasti dihadapi:

إ َكَب اَصَأ اَم ىَلَع ْرِبْصا َو ِرَكن ُمْل ا ِنَع َهْن ا َو ِفوُرْعَمْلاِب ْرُمْأَو َةاَل.صل ا ِمِقَأ .يَن ُب اَي ْنِم َكِل َذ ِروُمُأْل ا ِمْزَع 

17. “Wahai anakku! Dirikanlah solat dan suruhlah (manusia) berbuat kebaikan dan larangkan mereka berbuat kemungkaran dan sabarlah di atas kesusahan yang menimpa engkau. Sesungguhnya urusan sedemikian adalah dari urusan-urusan yang dilakukan dengan penuh keazaman.”

nilah jalan aqidah yang tersusun iaitu mentauhidkan Allah, menyedari wujudnya pengawasan Allah, meletakkan harapan pada balasan yang disediakan di sisi Allah, percaya kepada keadilan Allah dan takut kepada balasan Allah, kemudian berpindah pula kepada kegiatan berda’wah, iaitu menyeru manusia memperbaiki keadaan diri mereka, menyuruh mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka berbuat kemungkaran. Dan sebelum menghadapi perjuangan menentang kejahatan itu, seseorang harus berbekal dengan bekalan utama iaitu bekalan ibadat kepada Allah, bertawajjuh kepada Allah dengan solat dan sabar menanggung kesulitan yang dialami oleh setiap penda’wah kepada agama Allah, iaitu kesulitan akibat dan kedegilan dan penyelewengan hati manusia, kesulitan akibat dan kelancangan lidah dan dari kejahatan tindak-tanduk manusia, juga kesulitan akibat dan kesukaran kewangan dan pengorbanan jiwa ketika diperlukan keadaan “sesungguhnya urusan sedemikian adalah dan urusan-urusan yang dilakukan dengan penuh keazaman” Maksud dari ِروُمُأْل ا ِمْزَع ialah memotong jalan ragu-ragu (atau menghapuskan sikap teragak-agak) setelah ditetapkan azam dan dikuatkan tekad.

(Pentafsiran ayat-ayat 18 - 19)

Kemudian Luqman menyentuh dalam nasihatnya adab cara berdawah kepada Allah bagaimana yang diceritakan oleh al-Qur’an di sini, kerana berda’wah kepada Allah tidak mengharuskan seseorang bersifat takbur terhadap manusia atau bersikap angkuh atas nama memimpin manusia ke arah kebaikan dan lebih-lebih lagi sikap angkuh tanpa berda’wah kepada kebaikan. Ini adalah lebih buruk dan lebih keji lagi:

ٍ لاَت ْخُم .لُك .بِحُي اَل َه.لل ا .نِإ اًحَرَم ِضْرَأْل ا يِف ِشْمَت اَلَو ِسا.نلِل َك.دَخ ْر.عَصُت اَلَو ٍروُخَف

) 18 (

18. “Dan janganlah engkau palingkan pipi engkau dari manusia (kerana takbur) dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan lagak yang angkuh. Sesungguhnya Allah tidak sukakan sekalian orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” Kata-kata “as-Sa’r” bererti sejenis penyakit unta yang membuat lehernya menjadi teleng. Uslub al-Quran telah memilih kata-kata ini untuk meliarkan manusia dari teleng angkuh yang serupa dengan teleng penyakit unta, iaitu gerak-geri sombong dan tidak menghiraukan manusia, lagak memaling muka menunjukkan kesombongan. Berjalan di bumi dengan lagak yang sombong ialah berjalan dengan gaya takbur dan tidak mempedulikan manusia, iaitu satu lagak yang dibencikan Allah dan dimarahkan manusia. Gerak-geri dan lagak yang seperti ini adalah membayangkan seseorang itu ditimpa penyakit takbur “Sesungguhnya Allah tidak sukakan sekalian orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” Di samping melarang berjalan dengan lagak yang sombong al-Qur’an menerangkan cara berjalan yang sederhana dan mempunyai tujuan:

ِ .ِمَحْل ا ُتْوَصَل ِتا َوْصَأْل ا َرَكن َأ .نِإ َكِت ْوَص نِم ْضُضْغا َو َكِي ْشَم يِف ْدِصْقا َو

) 19 (

19. “Dan sederhanakanlah dalam gaya perjalananmu dan rendahkan suaramu. Sesungguhnya suara yang paling buruk ialah suara keldai.”

Maksud sederhana di sini ialah gaya berjalan yang hemat, jimat dan tidak melampau, tidak membuang tenaga menunjuk-nunjukkan lagak dan lenggang-lenggoknya yang sombong, juga gaya berjalan yang mempunyai matlamat kerana perjalanan yang mempunyai tujuan dan matlamat itu tidak teragak-agak dan tidak berlenggang-lenggok malah terus menuju kepada tempat tujuannya dengan mudah dan lancar. Merendahkan suara ketika bercakap membayangkan adab sopan dan kepercayaan kepada diri sendiri dan keyakinan kepada kebenaran dan kekuatan apa yang diucapkannya. Orang-orang yang biadab sahaja yang bercakap dengan suara yang keras dan bahasa yang kesat atau orang-orang yang ragu-ragu terhadap nilai perkataannya atau terhadap nilai dirinya sendiri lalu dia berusaha melindungi keraguannya itu di sebalik kata-katanya yang tajam, kasar dan keras. Uslub al-Qur’an membidas perbuatan-perbuatan seperti itu dan menggambarkannya dengan gambaran yang hina dan buruk apabila ia mengulas: “Sesungguhnya suara yang paling buruk ialah suara keldai” dengan satu pemandangan yang lucu dan menjijikkan serta menimbulkan perasaan benci dan memandang keji. Tidak mungkin bagi seseorang yang mempunyai hati yang memahami gambaran yang lucu di sebalik pengungkapan yang indah ini kemudian ia cuba meniru suara keldai itu. Demikianlah berakhirnya pusingan yang kedua setelah selesai memperkatakan persoalan yang pertama dengan penerangan dan uslub yang baru.

November 12, 2006

I miss that time...

Kangen kumpul sama akhawat2

Kangen dauroh

Kangen syuro

Kangen diskusi ttg qodhoya umat

Kangen kesibukan yang berkah

Kangen semangat kebangkitan

Kangen kangen kangen

Gimana ngobatin nya ya?

November 03, 2006

server too busy

gak bisa posting lagi!!!!!!!!! T_T

server too busy

gak bisa posting lagi!!!!!!!!! T_T

Fiuhhh, masih menyisakan list kerjaan

Udah hari jumat lagi... subahanallah betapa waktu bergulir tanpa terasa.

Tugas masih menumpuk dan entah kapan akan slesai....??

Seteleh beberapa minggu kehilangan semangat selama beberapa minggu kini aku bangkit perlahan. (Tampaknya masih menggeliat geliat nih... belum bangkit dan berlari)

Ya... semua harus dikerjakan dengan perlahan-lahan.

Ya, besok adalah sabtu, lusa adalah ahad.

Sabtu akan sibuk dengan tugas.

Ahad waktunya liqo dan tahfiz.

Senin dah mulai kuliah dan nyelesein tugas kelompok methodical design. Mentoring AAEI.

Selasa have fun nih!!! diajak makan2 sama abi...

tapi rabunya UTS anatomi fisiologi :(    T_T

Liqoat binaan, rapat dawah sekolah, mulai ngajar bimbel lagi...plus latihan jadi ibunya dah makin serius...

Oh iya, jangan lupa beli kado buat papa yang ultah tanggal 5 nanti dan ups, hampir lupa... besok teh miya walimahan!!! congrats teh miya :)

Fiuhhhhh... kewajiban lebih banyak daripada waktu!!!!

Dan...  ada moment penting tgl 6 nanti...

genap sudah 2 tahun akh sigit meninggalkan kita semua, andai aku bisa ke brebes... aku pengen ziarah.

Allahummaghfirlahu war hamhu wa fihi wa'fuanhu

Allahhumma la tahrimna ajrohu wala taftinna badahu waghfirlana walahu...

Nasyid aneh!!!

Nasyid ini ada di album gradasi. Di album ini aku suka banget dengan nasyid yang hidayah. Syairnya bagus, puitis banget. Sepertinya memang yang nyiptain lagi keciptatan hidayah dan ngerasain banget gimana indahnya dapet hidayah dari 4JJI
                                             
Walaopun suka nasyid, aku males beli kaset. Buang2 uang...
Manfaatkan aja stream.gamais.itb.ac.id. Kita bisa donlot nasyid. Gak terlalu up to date sih, tapi lumayan lah dari pada beli kaset. Lagian lebih enak dengerin murotal dari pada dengerin nasyid. Kadang dengerin nasyid lama2 bisa pusing juga. Bikin hati jadi keras. Apalgi sekrang ada nasyid2 yang lucu. Namanya aja nasyid, tapi liriknya gak ajauh beda sama lagu biasa. Misalnya nasyid nantikaku di batas waktu nya edcoustic. Banyak ustadz yang menilai nasyid ini kurang baik. karena seolah2 menceritakan dua insan yang menjalin HTS alias hubungan tanpa status.
                                                
Eits... bukannya ngejelek2in edcoustic. Aku juga suka edcoustic kok dengan pemuda palestina nya dan remaja peduli nya yang teenager banget. Dua jempol buat edcouctic!!
nah ceritanya di album Gradasi, kupinang engkau dengan alquran ada sebuah nasyid berjudul Dinda. Menurutku nasyid ini aneh... baca deh liriknya
                                                               
Dinda
Album : Kupinang Engkau Dengan Al Quran
Munsyid : Gradasi
Engkau sambut pagi
Dengan senyum ceria yang menawan
Mengantarkan daku pergi
Meraih mimpi ....kita

Andai ku bisa
Membuat diriku menjadi dua
Kutinggalkan yang satunya
Tuk temanimu...cinta duhai permataku


Reff:
Dinda...Sejuta pesonamu hadir dalam jiwa
Dinda...Senyummu mampu membuatku tak mengeluh
Dinda...Binar bola matamu terangi hariku
Dinda...Ketenangan bagai telaga yang kau berikan

Ketika ku pulang
Dibawah naungan lembayung senja
Kau berhias menantiku
Bertabur rindu ...kita

Nah........ yang aneh tuh yang liriknya ku beri warna pink....

Apa sih maxudnya?

ada yang tau?????

Tell me ya!!!

November 01, 2006

BEDA ANTARA CINTA DAN COCOK

Oleh: Dr. Paul Gunadi

Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta
--cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai
prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah
bersama masuk ke mahligai pernikahan.

Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat
kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk
merekatkan keduanya.

Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk
merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta.

Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.

Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba
hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena
sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri
mencintai seseorang.

Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke
arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut
berperan dalam proses pengemudian ini.

Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan
tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu,
kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri
dengan orang tersebut.

Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.

Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan
gadis atau pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita,
perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau
sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah
menyaksikan kualitas tersebut di
atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu
dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut. Misalnya, memang kita
mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah
lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan
seterusnya.

Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada
dirinya.

Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.

Namun khusus untuk pembahasan kali ini,saya membatasi lingkup cinta
hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering
dianggap demikian. Saya berikan contoh.

Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu
saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya
tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe
orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat
akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di
mana suka tidak sama dengan cocok.

Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang
berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.

Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar
(tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan
dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu cocok buat
saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita
akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.

Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu
menyukainya,dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada
dirinya. Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta)
akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan -- ini yang penting
-- cenderung menghalau
ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal
masalah.

Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran.

Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada
akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik
dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap,"Saya
menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar!

Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok!

Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok
dengan kita.

Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia
menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan
istri manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang
sepadan dengan dia."

Kata "sepadan" dapat kita ganti dengan kata "cocok." Tuhan tidak hanya
menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia
sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.

Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus
cocok.
Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai
prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang
terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah,
kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita
dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan
menginginkan yang terbaik
bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada
kita.

Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah
ia cocok denganku?

Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika
Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak
mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin
mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan
hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah
segalanya," dan melupakan fakta di
lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.

Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!

Teman-teman ini saya juga berikan sebuah doa untuk menemukan pasangan
hidup yang tepat dan cocok,doa ini sangat indah semoga juga bisa
memberikan kesadaran bahwa semua itu akan kita kembalikan kepada Sang
Empunya Kehidupan. ini saya buat dua versi yang bisa digunakan sesuai
jenis kelamin dan kebutuhan teman2. Jika artikel dan doa ini Anda rasa
berguna...berikan kepada mereka yang membutuhkan dan yakinlah niat
baik Anda pasti tidak akan pernah sia-sia... semoga bermanfaat

PRAYER FOR LIFETIME PARTNER

Tuhanku,

Aku berdoa untuk seorang pria/perempuan, yang akan menjadi bagian dari
hidupku.

Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.

Seorang pria/perempuan yang akan meletakkanku pada posisi kedua di
hatinya setelah Engkau.

Seorang pria/perempuan yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi
untukMU.

Wajah ganteng/cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting.

Yang paling penting adalah

sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau dan memiliki
keinginan untuk menjadi seperti Engkau.

Dan ia haruslah mengetahui bagi
siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.

Seseorang
yang memiliki hati yang bijak bukan hanya otak yang cerdas. Seorang
pria/perempuan

yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku. Seorang
pria/perempuan yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati
ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku/ketampanan tetapi
karena hatiku.
Seorang pria/perempuan yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap
waktu dan
situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang
perempuan/pria ketika berada di sebelahnya.

Aku tidak meminta seorang yang sempurna, Namun aku meminta seorang
yang
tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.

Seorang pria/perempuan yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.

Seorang pria/perempuan yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang
membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya. Seseorang yang
membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.

Dan aku juga meminta :

Buatlah aku menjadi seorang perempuan/pria yang dapat membuat pria/
perempuan itu bangga dan bahagia.

Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat
mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar
cintaku.

Berikanlah RohMU yang lembut sehingga kecantikanku/ketampananku datang
dariMU bukan dari
luar diriku. Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa
untuknya.

Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam
dirinya dan bukan hal buruk saja.

Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan
pemberi
semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.

Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua
dapat
mengatakaan "betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan
kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna". Aku
mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang
tepat dan
Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang
Kautentukan.

Amin

Lamar Boschman - "When I worship, I would rather my heart be without
words than my words be without heart."

My Photo
Powered by Friendster Blogs

May 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31